Minggu, 30 November 2008
remaja sma yogyakarta
Pernahkah Anda bertanya-tanya, apa remaja sekarang ini masih menulis buku harian? Anda mungkin akan terkejut dengan apa yang sekarang ini dilakukan remaja terhadap buku hariannya. Beberapa remaja mungkin masih menggunakan buku sebagai media penulisan diarium, ada yang menuliskannya dalam format digital, atau menaruhnya dalam sejumlah situs pribadi. Nah, yang menarik, beberapa remaja menggunakan media audio-visual. Sebanyak 34 siswa SMA Yogyakarta ‘menuliskan’ buku hariannya dalam bentuk video dan diputarkan, di Lobi Societet, Taman Budaya, 16 Februari lalu. Acara bertajuk DENGAR!, yang juga adalah pemutaran dan diskusi video berbasis komunitas bulanan. Dibawah asuhan Kampung Halaman, remaja-remaja yang terbagi dalam delapan kelompok ini membagi kisah cinta mereka dalam delapan video diary --media personal, partisipatif, sekaligus ruang untuk membicarakan pengalaman pembuatnya. Pengalaman yang didapat dari menonton video-video bertema cinta ini seperti mendengarkan remaja-remaja tersebut menceritakan salah satu kisah dalam buku hariannya.Rekaman pengalaman murid-murid dari tujuh SMA itu cukup representatif untuk melihat bagaimana kota ini diperlakukan penduduknya, minimal dari kalangan seusia mereka. Sesuatu itu Bernama Cinta (Tim Emotion, SMA Negeri 1 Gamping) merekam pengalaman menghabiskan waktu berdua dengan kekasihnya, yang pada waktu itu masih menjadi tunangan orang lain, berjalan-jalan di Istana Air Taman Sari, naik andong di alun-alun, menghabiskan sore di Pojok Benteng, dan di sekitar Stadion Mandala Krida. Tak Berbalas (Soul Brothers, Kolese de Britto) menampilkan Raphael Wregas Bhanuteja yang gelisah karena dilarang orangtuanya untuk mengikuti Upacara Peringatan Kemerdekaan di Istana Negara, Jakarta. Kegelisahan Raphael membuatnya merasa perlu pergi sementara waktu. Maka Raphaelpun berjalan kaki dari rumah, melalui Pojok Benteng, Plengkung Gading, sampai akhirnya sepanjang siang duduk-melamun di perempatan kantor pos Malioboro untuk menyendiri dan mencari inspirasi. Sangat berbeda dengan film-film layar lebar yang menampilkan remaja-remaja seusia mereka di Yogyakarta di sekitar Tugu, Wijilan, Malioboro yang ‘hanya’ sepanjang stasiun Tugu sampai Pasar Beringhardjo, dan desa-desa bersawah luas dan berpemandangan indah tanpa logika cerita yang mendukung.Pemandangan desa-desa bersawah memang dipertontonkan dalam A Cup of Tea (Tim Out of Frame, Kolese de Britto), namun sama sekali tidak eksotis. Video ini menggambarkan perjalanan bermotor seorang murid SMA dari rumahnya, di Godean, sampai ke Kolese de Britto. Rumah si pengendara motor yang terletak di pinggiran kota memang berada di sekitar persawahan. Perjalanan si pengendara motor yang tidak diperkenalkan namanya ini membawa penonton kepada ingatan-ingatannya akan neneknya. Si mbahlah yang membangunkannya dengan kasih sayang, merapihkan tempat tidurnya saat ia mandi, dan membuatkannya segelas teh sebelum ia berangkat sekolah --saya bisa merasakan bahwa kegiatan ini adalah rutinitas mereka dalam kesehariannya walau tanpa penggambaran waktu. A Cup of Tea memang hanya sepenggal kisah yang biasa terjadi dalam kehidupan sehari-hari, namun itulah yang justru yang membuatnya menonjol dari video-video lainnya. Kesehariannyalah yang dapat mengingatkan Anda pada bentuk-bentuk kasih sayang dari keluarga. Bentuk kasih sayang yang sudah terlalu rutin sehingga Anda merasa bahwa itu adalah sesuatu yang sudah sewajar dan sepantasnya. Yang sering terjadi adalah akhirnya Anda tidak lagi berterimakasih (take it for granted). Berkebalikan dengan Let the Moon Shine (Tim Cabuters, SMA Negeri 8) yang mengekspresikan hampir tidak adanya kasih sayang dalam ibu dan anak. Jenny membagi sedikit perasaannya tentang sosok ibu yang berada jauh darinya dan tidak mengunjunginya ketika ia sakit, namun malah meminta dikunjungi pada saat sang ibu sakit. Perasaan Jenny pada ibunya seakan sudah tidak dapat diekspresikannya. Hanya tulisan-tulisan Jennylah yang menceritakan kerinduannya pada sosok dan kasih sayang sang ibu. Kecintaan dalam keluarga menjadi benang merah yang menghubungkan A Cup if Tea dan Let the Moon Shine. Kisah-kisah hubungan percintaan dengan lawan jenis diceritakan dalam beberapa varian. Sesuatu itu Bernama Cinta mengisahkan cerita cinta antara Ega dan Nina yang menghabiskan waktu berdua dengan berjalan-jalan. Walau Nina tadinya sudah bertunangan, akhirnya Nina meninggalkan tunangannya demi Ega. Cinta yang tidak (atau belum) sampai disinggung beberapa remaja perempuan dalam Hei You! (Tim Nila Pangkaja, SMA Negeri 1). Mereka menyuarakan kesulitannya menyampaikan perasaan kepada anak-anak pria di sekolahnya --yang memiliki peraturan ketat yang melarang murid perempuan dan prianya berdekatan dengan jarak minimal satu meter. Semakin dekat dengan pengalaman masa-masa sekolah, Will Love Find A Way? (Tim Seveners B, SMA Negeri 7) menceritakan percintaan dalam persahabatan antara Wikan, Lidya, dan Arel. Lidya pacaran dengan Arel, Wikan patah hati. Lidya putus dengan Arel, Wikan senang dan berencana untuk menyatkan perasaannya. Sayang, esoknya Yogyakarta terlanda gempa. Love is trouble, if … (Yessy dan teman-teman, SMA Negeri 9) mengisahkan seseorang teman yang rela membohongi teman-temannya demi pergi bersama pacarnya, yang, selain sedang mendekati salah satu adik kelas, juga akhirnya meninggalkannya karena bosan. Sementara Cinta (Tim Water Soap, SMA Negeri 6) menceritakan Bobby, murid SMA yang jatuh cinta pada seorang perawat berusia 27 tahun.Bosan berdiam diri melihat kekacauan di negara ini, Raphael, dalam Tak Berbalas, memutuskan mengikuti nasihat ibunya. Pemuda yang lebih sering dipanggil Tedjo oleh teman-temannya inipun menyurati kepala negara untuk mengungkapkan apa yang dirasanya perlu dilakukan negara atas bencana gempa yang menimpa Kota Berhati Nyaman ini. Ia membagi kegelisahannya dalam menunggu surat balasan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang tak kunjung datang. Dalam surat yang dikirimkan siswa kelas 1 SMA Kolese de Britto ini, ia menawarkan solusi untuk membantu korban gempa di Yogyakarta. Tak Berbalas sangat menarik. Sementara sebagian dari anak-anak seusianya ada yang hanya sibuk bermain Play Station atau nongkrong di mal, kepedulian Raphael kepada lingkungan sosial dan politik justru begitu besar. “Aku tuh cinta banget sama Indonesia, seolah-olah Indonesia tuh ibuku sendiri, “ ujar remaja yang sering mengenakan jaket Soe Hok Gie dan tas berbordir “Indonesia” lengkap dengan bendera merah-putih ini. Video ini menawarkan penggambaran bentuk cinta yang berbeda, cinta terhadap negara.Demikian saya kategorisasi kedelapan video yang ditayangkan menjadi tiga macam; cinta kepada lawan jenis (lima video), cinta keluarga (dua video), dan cinta negara (satu video). Dalam proses lokakarya video ini, Kampung Halaman memang tidak mengarahkan pesertanya kepada siapa cinta harus ditujukan. Tidak juga ada kesepakatan yang bulat mengenai konsep cinta, apa itu cinta, dan definisi cinta antara kedua pihak. Tema cinta bahkan bukan permintaan penyelenggara, melainkan kesepakatan para remaja SMA tersebut untuk merayakan Hari Kasih Sayang. “Cinta bukan dikatakan, tetapi dilakukan,” ujar Eko Harsoselanto yang mewakili penyelenggara DENGAR! dalam menerima hadiah kejutan dari anak-anak binaannya dalam program ini.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

1 komentar:
mbuls good
Posting Komentar